Drama Toilet Training: Cerita Jujur Ibu Muda dan Tips yang Bekerja

Spread the love

Cerita toilet training anak satu dengan lainnya pasti berbeda, namun yang penting dan perlu digaris bawahi adalah bahwa toilet training perlu diajarkan dan dibiasakan bukan sesuatu hal yang berlangsung secara alamiah. Banyak orang tua, khususnya kaum ibu yang masih maju mundur ketika dihadapkan pada fase toilet training pada anak. Sebenarnya bukan karena anak belum siap, namun lebih pada alasan orang tua yang belum siap dengan segala konsekuensinya.

Cerita Jujur Ibu Muda Tentang Pengalaman Toilet Training Anak

Cerita toilet training anak mungkin belum pernah didengar oleh kaum ibu zaman dahulu, meski mereka sebenarnya sudah mempraktikkannya pada anak-anak mereka. Hanya saja teori dan praktiknya seiring berkembangnya zaman semakin berbeda. Jika dahulu untuk mengajarkan anak bisa buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) secara mandiri di toilet tak perlu banyak perintilan, sekarang ada banyak alat yang diciptakan untuk mendukung proses tersebut.

Sebenarnya perlu atau tidaknya perintilan pendukung proses toilet training tergantung persiapan yang dilakukan oleh sang ibu. Karena yang akan bergulat dan terlibat langsung dengan proses toilet training adalah ibu. Bahkan ibu yang bekerja sekalipun wajib terlibat dengan aktivitas tersebut, karena di malam hari anak tetap butuh BAK dan BAB bukan?

Ada beberapa hal yang bisa dicatat dari berbagai pengalaman toilet training para ibu dalam melalui cerita toilet training anak bersama anak-anaknya, yaitu:

Lakukan saat anak sudah siap

Jika anak sudah menunjukkan adanya kesiapan secara fisik maupun emosional, maka segera lakukan persiapan awal melakukan toilet training. Tanda yang diperlihatkan diantaranya adalah anak sudah bisa duduk di toilet duduk atau jongkok di toilet jongkok. Tanda kesiapan lainnya adalah ketika anak sudah bisa menahan atau mengendalikan rasa ingin BAK atau BAB hingga sudah berada di toilet.

Anak juga terlihat sudah siap untuk melakukan toilet training jika sudah bisa melepas baju atau celananya saat ingin BAK atau BAB. Sedangkan untuk kesiapan secara emosional ditunjukkan ketika anak sudah bisa mengatakan bahwa dia ingin BAK atau BAB pada orang tuanya.

Siapkan diri dan lingkungan

Sangat penting untuk mempersiapkan diri dan lingkungan sekitar sebelum mulai melakukan toilet training pada anak. Beritahukan pada orang serumah bahwa Anda akan menerapkan toilet training pada anak sehingga mereka pun sudah siap dengan segala konsekuensinya. Pastikan diri sudah siap dan bisa konsisten untuk bersabar serta ikhlas melatih anak toilet training karena merupakan salah satu tantangan mengasuh balita.

Hindari mempunyai harapan terlalu tinggi, seperti misalnya berharap hanya dengan 1 atau 2 hari latihan, kemudian anak sudah paham dan pintar pergi ke toilet sendiri. Selain itu, penting untuk diingat bahwa cerita toilet training anak berbeda-beda bahkan ada yang unik. Maka berhenti membandingkan prosesnya dengan proses toilet training yang pernah Anda dengar.

Briefing anak

Anda bisa memberikan pemahaman pada anak tentang pentingnya kemampuan toilet training pada anak sehingga tidak menyebabkan anak takut ke toilet. Beritahukan pada anak tentang bagaimana cara BAK dan BAB yang baik, yaitu dengan melakukannya di toilet kamar mandi. Anda bisa membacakannya buku cerita bergambar yang mengajarkan tentang proses toilet training pada anak.

Selain itu juga bisa mengenalkan pada anak mengenai beberapa tanda jika kita ingin BAK atau BAB. Seperti misalnya diawali dengan sakit perut maka ibu bisa menunjukkan ekspresi sakit pada perut karena mau BAK atau BAB yang kemudian diikuti dengan langsung pergi ke toilet kamar mandi. Kenalkan juga tentang bagaimana cara jongkok atau duduk yang baik di toilet serta cara membersihkan diri serta lingkungan setelah selesai BAK dan BAB.

Catat jadwal BAK dan BAB anak

Pahami dan catat dengan benar jadwal BAK serta BAB anak, penting juga disertai dengan beberapa tanda khas yang dimiliki anak jika ingin BAK atau BAB. Beritahukan pada pengasuh atau nenek yang menjaganya jika Anda harus bekerja di siang hari sehingga bisa memastikan mereka langsung mengajaknya ke toilet sesuai jadwal tersebut. Sangat penting untuk bisa menjaga konsistensi antara yang dilakukan ibu dengan pengasuh sehingga anak tak bingung dengan proses toilet training yang dilaluinya dan bisa menjadi tips lepas popok.

Berikan apresiasi

Anda bisa membelikannya stiker bintang untuk merayakan keberhasilannya dalam menjalankan toilet training. Namun beberapa ibu dalam cerita toilet training anak memilih untuk memberikan pujian secara langsung pada perilaku baik anak karena bisa memberikan terapi yang lebih baik pada anak.

Pujian secara langsung pada perilaku anak, misalnya “Wah, anak mama sudah pinter ya, bisa pipis di kamar mandi, pup di toilet, jadi sudah gak pakai diapers lagi ya”. Atau bisa juga dengan memberikan pujian ketika anak sudah bisa menjaga kebersihan dengan melakukan BAK dan BAB di kamar mandi.

Itulah beberapa cara efektif yang bisa Anda lakukan untuk proses toilet training anak, sesuai dengan beberapa pengalaman serta cerita toilet training anak. Semoga efektif dan berhasil terutama untuk ibu yang bekerja. Selamat mencoba.

Frequently Asked Questions

Berapa lama usaha toilet training bisa berhasil?

Umumnya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan toilet training pada anak berbeda-beda, namun biasanya membutuhkan waktu kurang lebih 3 hingga 6 bulan lamanya sampai anak benar-benar siap menggunakan toilet sendiri. Adapun upaya toilet training pada anak dikatakan berhasil jika anak sudah bisa buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) di toilet tanpa mendapatkan bantuan orang dewasa serta berhasil tak mengompol.

Bagaimana cara melakukan toilet training?

Di bawah ini Adalah beberapa langkah untuk mengajarkan anak toilet training dengan tepat yaitu:

– Jelaskan pada anak mengenai konsep buang air di toilet

– Gunakan dudukan toilet yang nyaman dan aman untuk anak

– Contohkan dan langsung praktikkan tentang cara menggunakan toilet dengan benar

– Biasakan anak untuk bisa pergi ke toilet pada waktu tertentu, terutama ketika sedang ingin BAK atau BAB

– Ajarkan pada anak untuk tetap menjaga dan memperhatikan kebersihan diri dan area toilet ketika buang air

Toilet training sebaiknya dimulai pada anak usia berapa?

Toilet training sebaiknya dimulai ketika anak sudah menunjukkan adanya tanda kesiapan fisik dan emosional, yaitu pada rentang usia 18 bulan hingga 3 tahun. Meski begitu, tak ada patokan usia yang ideal untuk menjalankan toilet training karena perkembangan setiap anak berbeda-beda.

Apa yang terjadi jika anak dipaksa untuk melakukan toilet training?

Pada anak yang melakukan toilet training dengan terpaksa atau belum pada waktu dirinya menunjukkan kesiapan fisik dan emosional maka bisa berakibat proses tersebut menjadikan mereka stres bukan hanya pada anak namun juga orang tua. Metode yang terlalu keras dengan memaksakan anak bisa memicu adanya tekanan emosional dan mengganggu hubungan harmonis antara anak dengan orang tua.

Apa tujuan utama dilakukannya toilet training?

Toilet training adalah sebuah proses yang dilakukan dengan tujuan untuk melatih anak agar bisa buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) secara mandiri di toilet tanpa bergantung pada bantuan orang dewasa ataupun penggunaan popok.